GLOBAL-ISLAM.COM -Sun – sun, ahli stategi kawakan asal Cina pernah bertutur
dalam The Art Of the Wear, “memperoleh 100 kemenangan dalam 100 pertempuran
bukanlah suatu keahlian, namun menakhlukkan musuh tanpa bertempur, itu baru
keahlian. “untuk perang kontemporer, sepertinya media informasi yang mampu
menakhlukkan musuh tanpa bertempur.
Syaikh Asyahid DR. Abdullah Azzam ulama pejuang yang sangat
memperhatikan perang media, (Dakwah Muqowamah, halaman 1438). Semua haroki,
terutama jihadi mengerti kemampuan Syaikh dalm berpidato dan berorasi.
Namun, Syaikh tidak hanya mengandalkan kemampuan dalam
berorasi. Beliau juga membangun markas I’lam, semacam kantor berita
multi fungsi, diantara tugasnya merekam dan mendokumentasi peristiwa-peristiwa
di bumi jihad Afgan, baik berupa ceramah, dakwah, kajian umum, pembagian
sembako hingga pertempuran.
Sepertinya beliau menyadari, bahwa ceramah di atas mimbar, kajian
di forum pengajian serta tahridh-memnggalang umat islam untuk menyokong Jihad-tidak akan tersebar ke masyarakat
dunia, tanpa publikasi, dan tanpa pengawalan media yang mempromosikan Jihad
ke plosok Bumi .
Di era jihad kontenporer, Tadzim Al -Qaeda bisa menjadi
contoh.I’Lam-Media Informasi-Yang di miliki Al Qaeda tidak kalang bargainningya
Dengan sayap militer. Majalah Al-Qaeda Insfire untuk ediasi inggris dan As-shumut untuk edisi
arab membuat petinggi-petinggi pentagon kebakaran jenggot. Kebohongan mereka lewat media BBC-nya,
terungkap lewat majalah ini.
Yang terbaru, video documenter oprasi mujahidin irak yang berhasil menangkap dan
mengeksekusi jendral SWAT Irak, yaitu Unit pasukan Khusus seperti densus 88 di Indonesia, masuk dalam katagori inbok. Paling banyak di
tonton oline. Menariknya yang paling
banyak menklik Vidio ini justru dari negeri musuh Al-Qaeda, Yaitu Amerika. Aneh memang tapi nyata.
Maka jihad media harus di kelola oleh haraki baik jihadi maupun non-Jihadi. Tidak hanya jihadi yang jahiriyah, yang sirriyah pun bertanggung jawab untuk mengelola
berita dan memmbetuk Opini public.
Menurut Syaikh As-Surri
justru tandzim sirr-harokah Undergroun-lebuh memiliki kepentingan untuk
terjun All-Out Di jihad media. Pasalnya, ide,pikiran dan gagasan
mereka harus di pahami oleh umat yang di hari kemudia mereka akan
menjadi pendukung system pemerintahan island an jihad itu
sendiri. Apalagi tandzim Srri tidak memiliki kantor penerangan, untu mengkomunikasikan semua yang memjadi pikiran mereaka dengan umat yang sipil atao meliter dan dengan
harokah lainya. Satu-satunya jalan mudah di tempuh dan dia akses adalah media.
Ketika kondisi memeksa para haraki
untuk
memilih Tandzim sirri, sebelum ber benturan dengan kekuatan musuh, seharusnya para harhai memasikalkan Media informasi untuk berkomunikasi
dan memdakwai umat. Karna aka nada suatu Waktu yang menyulitkan untuk
berkomunikasi dengan mereka.
Terkadang phenomena kekinian terlihat mirris. Yaitu, masih ada sebagaian haraki yang memandan
sebelah mata media informasi, tidak All-
Out dalam bertempur di zona media informasi. Lebih asik dengan dakwah tradisounal dari satu panggung kepanggung lainya. Lebih berseni dalam dunia
militer-‘Asikari-. PADAHAL SAYAP MILITER, DAKWAH
TRADISONAL, DAN SAYAP I’LAM-MEDIA-ADALAH SATUKESATUAN YANG TIDAK BISA DI
PISAHKAN.
Kata orang arab “ ,Aduwwun ‘Alimun,khairun min shahibin
jahilin”, “musuh yang pintar lebih bermanfaat dari pada kawan yang BODOH.
“Belajar perang media informasi dari musukh yang bernama Amerika, banyak
manfaatnya dan tidak ada salah nya.(Ak.Sh)
Referensi : Majalah An-najah edisi 86 Hal. 6-8
Editor : Aiman | Global-islam.com



Posting Komentar